Friday, 1 April 2016

Masih Belum Ada Judul



Pagi yang indah. Udara yang sejuk. Langit terlihat seperti mahakarya seorang pelukis dengan riuk ombak awan yang bertebaran kesana kemari. Pepohonan bergoyang pelan yang menghasilkan angin sepoi-sepoi bak kipas angin “cosmos” yang dinyalahkan dengan level nomor dua. Seekor burung bersiul pelan bersama beberapa lainnya secara bergantian yang terdengar seperti suara musik mainan anak-anak.
Hari ini, kami akan berangkan ke Bali, tempat yang dijuluki pulau dewata. Aku berangkat bersama empat orang temanku, tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Kami akan berangkat dengan pesawat Lion air yang dijadwalkan take off pada pukul 17.45 waktu Indonesia tengah. Oh iya, kami akan berangkat dari Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.
Sambil menunggu boarding, aku akan menceritakan tentang teman-teman yang berangkat bersamaku. Yang pertama, namanya Zulfahmi, dia biasa dipanggil Fahmi. Dia adalah mahasiswa pendidikan bahasa Inggris UIN Alauddin. Dia adalah yang paling dewasa diantara kami, baik secara usia ataupun secara sikap. Tapi dia mudah bergaul, kocak, asik dan seru. Saat kami terlihat atau merasa mengantuk saat menunggu boarding, dia tak jarang membuat kekonyolan yang memancing tawa kami berempat.
Berikutnya, ada Muhammad Fahmi Masda. Dia bersifat kontras dari Zulfahmi meskipun sama-sama dipanggil Fahmi. Fahmi yang satu ini terlihat lebih cool dan jaim. Tapi, wawasannya tidak sama sedikitnya dengan jumlah kata yang  ia keluarkan jika dibandingkan dengan Fahmi yang pertama. Dia adalah mahasiswa hubungan internasional Unhas. Selain itu, dia juga seorang debater yang punya pengalaman segudang. Sebelum berangkat bersama kami, dia merupakan juara National University Debating Championship (NUDC) tingkat wilayah Kopertis IX yang meliputi Pulau Sulawesi, Provinsi Gorontallo dan sebagian wilayah timur Indonesia. Sedikit kebayang kan, bagaimana hebat bahasa Inggrisnya.
Selanjutnya, ada Fadel Muslaeni. Dialah yang paling lucu diantara kami. Julukan lain untuknya adalah si pelawak. Ada saja ide konyolnya untuk memancing tawa diantara kami, regardless any conditions. Sama halnya dengan Fahmi pertama, dia juga merupakan mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris UIN Alauddin Makassar.
Yang terakhir adalah yang paling cantik, Sri Wahyuningsih. Ya iyalah yang paling cantik, secara dia adalah satu-satunya perempuan diantara kami. Kami biasa memanggilnya Ningsih. Tidak berbeda jauh dengan teman-teman yang saya perkenalkan sebelumnya, dia juga qualified. Dia merupakan mahasiswi pendidikan Biologi bilingual Universitas Negeri Makassar.
Satu lagi! Hampir lupa, ternyata masih ada satu. Dia adalah saya sendiri. Hehe.. Saya Hardillah, teman-teman biasa memanggil saya Dillah. Terdengar seperti nama perempuan, tapi apalah arti sebuah nama; mawar ketika berganti nama akan tetap menampilkan kemawarannya-kata Shakespear, Hardillah diganti dengan nama apapun tetaplah seorang laki-laki. Sama dengan Fahmi pertama dan Fadel, saya juga kebetulan kuliah di UIN Alauddin Makassar, tapi dengan jurusan yang sedikit berbeda, bahasa dan sastra Inggris.
Well, mungkin yang membaca tulisan ini akan bertanya; untuk apa kalian ke Bali? Liburan? Foya-foya? Hamburin duit berlebih? Dan macam-macamlah. Tapi, semua pertanyaan-pertanyaan itu will be wrong address jika dialamatkan ke kami. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sepertinya lebih cocok dialamatkan kepada orang kaya yang punya ongkos berlebih, dan kami bukan orang kaya itu! Lalu, untuk apa? Baca terus paragraf selanjutnya ya! Hehe..
Maksud keberangkatan kami adalah untuk volunteering pada kegiatan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015, agenda tahunan kesusastraan terbesar se-Asia. Untuk menjadi volunteer, ada beberapa steps yang harus diikuti, dan itu tidak bisa dikatakan mudah, bukan juga berarti sulit, in the middle lah. Bayangkan saja, anda harus bersaing bersama ratusan orang se-Indonesia dalam proses seleksi!
Acara ini akan berlangsung selama empat hari. Tapi, kami merencanakan satu minggu to live in Bali; empat hari volunteering dan sisanya jalan-jalan keliling Bandung, eh, Bali maksudnya. Sesuai nama acaranya, Ubud Writers and Readers Festival, acara ini juga akan bertempat di Ubud, salah satu tempat wisata paling sejuk dan hijau yang ada di Bali. Hamparan sawah yang luas, pepohonan yang rindang, serta bukit-bukit hijau yang mengelilingi benar-benar memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.
Oh iya, akhirnya tiba juga panggilan untuk boarding. Kami pun mengemasi barang-barang. Bersiap-siap. Mengecek sekitaran kami untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan. Saling menatap satu sama lain dan mengacungkan jempol. Semua aman! Kamipun berjalan pelan menuju pintu pesawat. Masuk ke pesawat, mencocokkan nomor kursi pada tiket dengan barisan ratusan kursi yang berjejer dalam pesawat. Ketemu! Kami duduk masing-masing di kursi kami. Setelah beberapa selingan dari pramugari dan pramugara, pesawat akhirnya take off. Bergerak vertikal setinggi ribuan kaki, dan horizontal sejauh ribuan mil.

To be continued...

Hayam Wuruk, Bali, Oktober 2015 

Sunday, 13 March 2016

Joger

Berkunjung ke Bali, harus berkunjung ke Joger! Ya.. Joger adalah salah satu tempat yang harus dikunjungi ketika berkunjung ke Bali. Toko souvenir ini telah menjadi bagian penting Bali, bahkan ada statement yang mengatakan ‘rugi ke Bali kalau tidak mangkir di Joger’.

Toko pabrik kata-kata Joger adalah salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan saat kita berkunjung ke Bali. Sebagaimana Dagadu di Jogja, Joger adalah ikon untuk toko souvenir berupa kata-kata lucu yang sebenarnya banyak mengandung filsafat hidup. Adalah Joseph Theodorus Wulianadi, lelaki kelahiran Kota Denpasar, 9 September 1951, yang mendirikan. Pak Joseph yang menyebut dirinya memang berbeda dari yang lain, merdeka, tidak terikat, dan unik. Karakter inilah yang kemudian melekat pada berbagai produk Joger.

Kisahnya, Pak Joseph atau kemudian dikenal dengan Mr. Joger pada sekitar tahun 1970an bersekolah di di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat. Ia berkenalan dengan Mr. Gerhard Seeger, hingga menjadi kawan akrab yang sangat baik. Saking baiknya, saat Mr Joger menikah dengan istrinya Ibu Ery Kusdarijati, Mr Gerhard Seeger memberinya hadiah uang sebesar USD 20.000. Uang hasil pemberian inilah yang kemudian dijadikan modal untuk membangun usaha.

Awalnya tidak terpikir memberikan nama apa, tetapi untuk menghargai Mr. Gerhadr, Pak Joseph berinisiatif menggabungkan nama depan dirinya dan Mr Gerhard. Jadilahnama JOGER, gabungan dari nama depan Joseph dan Gerhard. Bermula dari sebuahtoko souvenir kecil di Jalan Sulawesi, Denpasar, di depan Pasar Badung, nama Joger resmi dilahirkan tanggal 19 Januari 1981. Nama ini melekat terus, hinggaakhirnya pada tanggal 7 Juli 1987, Joger membuka satu toko souvenir besar di jalan raya Kuta, Bali, yang semakin ramai, hingga kini.

Tadinya, Mr Joger memutuskan hanya ada satu toko besar ini. Tetapi kemudian karena membludaknya pengunjung hingga sering memacetkan jalan di sekitar Kuta, Joger akhirnya membuka lagi satu toko yang menyediakan barang-barang yang sama di Tabanan, ke arah Bedugul.

Parkiran Joger, Selalu dipenuhi pengunjung Joger adalah salah satu cerita sukses yangluar biasa. Setiap hari, ribuan pengunjung mendatangi tokonya. Bahkan, kalauhari libur, untuk masuk tokopun mesti antri saking banyaknya orang yang akan masuk. Dan bermula hanya dari kaos, sekarang ini di Joger banyak sekali item produk yang bisa dibeli, mulai dari souvenir kecil, tas, batik, kaos, stiker, jam aneh yang memutar tidak searah jarum jam biasa, bahkan hingga sandal dan sepatu. Semuanya laris manis diburu pengunjung, terutama kaos.

Karena itu, walaupun produksinya berjalan terus, kadang pengunjung harus kecewa karena sering kehabisan kaos. Namun, di balik kesuksesan yang telah dicapai sekarang, sebenarnya ada proses panjang yang harus dilalui Joger. Kalau sekarang, Joger sudah mempunyai mesin produksi sendiri, dengan proses digital yang sangat cepat, yang hampir tidak pernah menganggur berproduksi karena banyaknya permintaan.

Saat awal memulai, Joger adalah sebuah kerja keras yang patut diteladani. Belum punya mesin sendiri, Mr Joger tidak mau bergantung dan berputus asa. Ia mendesain sendiri produk kaosnya, dan melakukan permenungan kata-kata unik setiap hari. Karena belum punya mesin, desain tersebut ia “orderkan” kepada orang lain yang punya mesin. Saat itu, semuanya dicetak manual. Desain dan kata-kata original khas Mr. Joger pun akhirnya mulai dijajakan di tokonya. Salah satu sudut ruangan toko tantangan selanjutnya membangun merek, sekaligus merebut kepercayaan orang untuk membeli produknya.

Mr. Joger pantang berputus asa. Ia bergerilya dari mulut ke mulut, dari satu tourist guide ke tourist guide yang lain, mengabarkan kepada mereka agar mau merekomendasikan produknya kepada para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Lambat laun, kerja kerasnya mulai mendapatkan hasil. Dengan keunikan produknya yang memang berbeda dari biasanya, ia mulai mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Media massa pun mulai meliriknya sebagai berita. Muncullah ia di berbagai media, baik lokal maupun nasional.

Sejak kemunculannya di berbagai media inilah, tidak pelak lagi, Joger mulai menancapkan kakinya sebagai salah satu barang souvenir wajib yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke pulau Dewata. Yang menarik dari Joger adalah kreativitasnya yang seakan tidak pernah surut. Konsep kata-kata yang digunakan begitu orisinil, unik, menggelitik, dan penuh sindiran. Tetapi tidak bisa dipungkiri, kata-kata yang kadang terkesan konyol tersebut sangat filosofis,dan penuh perenungan.

Kreativitas tidak pernah berhenti, banyak pelajaran yang saya dapatkan saat berkunjung ke Joger ini. Pertama, konsep pemasaran yang tidak biasa yang dijalankan Joger sangat berhasil (Istilah kerennya Anti Marketing). Orang biasanya selalu hanya ingin mengungkapkan hal-hal baik pada dirinya, tetapisejak awal, Joger bilang: “Joger jelek, Bali bagus”. Tidak ada kesuksesan tanpakerja keras.

Kedua, Joger bukanlah berhasil dengan tiba-tiba. Keberhasilan Joger berasal dari upaya kerja keras terus menerus dari pemiliknya, dan juga tim kerjanya. Mereka melakukan berbagai cara dan upaya agar tokonya bisa besar. Kerja keras itu dilakukan dalam waktu yang cukup dan didapatkan melalui perjalanan yang membutuhkan ketekunan, konsistensi, dan kesabaran. Kalau sudah begitu, kesuksesan hanyalah masalah waktu.

Dan terakhir, kreativitas dan inovasi adalah kunci untuk menguasai masa depan. Sama-sama jualan kaos, sama-sama jualan souvenir, sama-sama jualan sepatu dan sandal, tetapi Joger membuktikan dengan kreativitas yang unik, yang membedakannya dari produk sejenis, akan memberikan nilai tambah dan keunggulan bersaing yang tidak dimiliki oleh orang lain. Jangan pernah bermimpi mampu bersaing dengan oranglain, atau menjadi besar, tanpa kita mempunyai keunggulan bersaing. Semakin unik keunggulan bersaing yang kita miliki, semakin besar peluang untuk mencapaikesuksesan. 

Denpasar,  Agustus 2015

Indonesia, Islam dan Masjid Chengho

Berbicaratentang Indonesia berarti berbicara tentang sejarah. Indonesia hari ini adalah wujud atau hasil dari apa yang terjadi dimasa lalu. Sebagai bekas negara jajahan dengan kekayaan sumber daya yang melimpah, negeri ini juga ‘pernah’ merasakan kemerdekaan. Indonesia tepatnya memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17agustus 1945.

Indonesia sangat terkenal dengan keberagaman suku, agama dan budayanya. Negara dengan 33 provinsi ini memiliki ribuan suku bangsa, ribuan pulau dan ratusan jenis bahasayang dipakai sehari-hari sesuai dengan domisili masyarakat. Untuk menyatukan keberagaman ini, kemudian dikenal istilah binaka tunggl ika, yang memiliki makna berbeda-beda tapi tetap satu.

Untuk agama, mayoritas penduduk negara seribu pulau ini memeluk agama Islam. Bahkan indonesia juga dikenal sebagai negara dengan tingkat persentasi masyarakat muslim tertinggi didunia saat ini dengan sekitar 87% orang. Islam di Indonesia hari ini tidak serta merta hadir begitu saja. Sejarah panjang dilaluinya untuk menjadi kepercayaan mayoritas masyarakat bangsa ini.

Satu yang menarik adalah salah satu penyebar agama rahmatanlilalamin yang tercata dalam sejarah Indonesia adalah Laksamana Chengho. Pada tahun 1405, delapan puluh tujuh tahun lebih sebelum penjelajahan Columbus, seorang pelaut Muslim China, Laksamana Zheng He atau diIndonesia lebih dikenal dengan nama Cheng Ho telah lebih dahulu mengarungi lautan dunia dengan jarak tempuh yang lebih panjang dan lebih luas dibanding seorang penjajah Colombus. Kapal yang digunakan Cheng Ho dengan panjang 400 kaki adalah jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kapal Columbus yang panjangnya hanya 85 kaki.

Cheng Ho melakukan penjelajahan dunia sebanyak tujuh kali dari tahun 1405 sampai 1433. Kapal-kapal Cheng Ho mengunjungi Nusantara, Thailand, India, Arabia, dan Afrika Timur. Bahkan ada beberapa spekulasi yang memperkirakan perjalanan kapal Cheng Ho jauh melampaui Semenanjung Harapan Afrika Selatan. Bahkan ahli sejarah Gavin Menzies memperkirakan bahwa Cheng Ho juga mencapai benua Amerika, meskipun banyak diragukan ahli lain karena dugaan Menzies kurang didukungbukti-bukti sejarah yang meyakinkan.

Penjelajahan Cheng Ho bukanlah suatu upaya untuk melakukan penaklukan atau penjajahan terhadap bangsa-bangsa lain oleh bangsa China. Perjalanan Cheng Ho lebih merupakan upaya untuk mengenal bangsa-bangsa lain dan juga untuk menjajaki kemungkinan untuk kerjasama perdagangan dan ekonomi dengan bangsa-bangsa lain. Cheng Ho membawakan kepada bangsa lain hadiah-hadiah seperti emas, perak, porselin, dan sutera; sebagai imbalannya Cheng Ho membawa pulang ke negaranya binatang-binatang yang tidak ada di negaranya seperti burung unta, zebra, unta,dan jerapah, dan juga membawa pulang gading gajah.  

Karena jasanya itu, maka masyarakat muslim Tionghoa mendirikan masjid yang berarsitektur cina yang mereka namai masji Laksamana Cheng Ho. Masjid Laksamana Cheng Ho sendiri saat ini tercatat hanya ada 4 di Indonesia, yakni di Palembang, Surabaya, Pasuruan dan Makassar. Satu yang paling menarik perhatian adalah masjid Cheng Ho kabupaten Pasuruan. Masjid yang berletak di Jl. Raya Kasri ini adalah salah satu daya tarik kota Pandaan. Menjadi salah satu icon dan menjadi sarana ibadah sekaligus tempat wisata bagi pengunjung luar kota.

Masjid berarsitektur Cina yang diresmikan pada tgl 27 Januari 2008 oleh Bupati H.Jusbakir Aldjufri SH.MM, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 30 Mei 2004, sebelumnya merupakan tanah kosong milik perhutani yang kemudian dikelola menjadi masjid yang menelan biaya hinggaRp. 3,2 milyar lebih.

Masjidini dibangun di atas tanah seluas 6.000 meter persegi. Dengan luas bangunan masjid 550 meter persegi. Masjid ini terdapat dua lantai. Lantai bawah seluas 529 meter persegi bakal ditempati perpustakaan, akad nikah dan acara seremonial religi lainnya. Sejak habisnya masa jabatan Bupati Jusbakir, masjid ini sekarang dikelola oleh ketakmiran masjid sebagai penanggung jawab.

Malang,  Agustus 2015